Artikel

Strategi Aman Transfer RMB ke Supplier China: Panduan Legalitas dan Efisiensi Biaya

Cara aman transfer rmb

Di tengah meningkatnya pengawasan transaksi internasional, aktivitas transfer RMB ke supplier China kini menjadi perhatian penting bagi banyak importir di Indonesia. Salah memilih jalur pembayaran bukan hanya memicu keterlambatan transaksi, tetapi juga dapat menyebabkan rekening supplier dibekukan oleh otoritas keuangan di China.

Kasus frozen account semakin sering terjadi karena masih banyak pelaku usaha menggunakan jalur remitansi ilegal atau pihak ketiga yang tidak memiliki izin resmi. Ketika dana terdeteksi berasal dari sumber mencurigakan atau jalur pembayaran tidak sah, sistem pengawasan perbankan China dapat langsung menahan rekening penerima untuk proses investigasi.

Dampaknya tidak main-main. Supplier dapat kehilangan akses terhadap dana operasional, proses pengiriman barang tertunda, hingga hubungan bisnis menjadi terganggu. Karena itu, importir perlu memahami pentingnya menggunakan layanan remitansi legal dan sesuai regulasi agar transaksi IDR ke RMB tetap aman, efisien, dan minim risiko.

Risiko Fatal Jalur Ilegal: Mengapa Rekening Supplier China Sering Dibekukan?

Dilansir dari People’s Daily Online, pemerintah China menjalankan kampanye anti pencucian uang dan penipuan finansial bernama Duan Ka atau Card Breaking Campaign. Kebijakan ini menargetkan penyalahgunaan rekening bank, kartu identitas, dan jalur pembayaran ilegal yang kerap digunakan dalam praktik underground banking.

Pengawasan yang semakin ketat membuat rekening supplier di China dapat dibekukan apabila menerima dana dari agen tidak resmi atau sumber transaksi yang tidak jelas.

Banyak pelaku usaha di Indonesia tidak menyadari bahwa penggunaan pihak ketiga berisiko tinggi karena dana dari berbagai transaksi sering tercampur dalam satu jalur pembayaran. Akibatnya, sistem pengawasan perbankan China dapat mendeteksi transaksi tersebut sebagai aktivitas mencurigakan.

Selain itu, penggunaan akun pribadi untuk pembayaran bisnis juga meningkatkan risiko investigasi. Transaksi tanpa underlying documents yang jelas, seperti invoice, kontrak penjualan, atau dokumen impor, dapat memicu pemeriksaan dari otoritas pajak maupun regulator moneter.

Kondisi ini membuat supplier ikut terdampak meskipun mereka tidak secara langsung melakukan pelanggaran.

Memahami Regulasi Local Currency Settlement (LCS) untuk Transaksi Bisnis

Sumber: Pixabay/Public Domain Pictures

Pemerintah Indonesia melalui Bank Indonesia menerbitkan PBI Nomor 23/9/PBI/2021 sebagai dasar penguatan transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Settlement (LCS). Kebijakan ini mendukung perdagangan dan investasi bilateral, termasuk transaksi antara Indonesia dan China.

Melalui skema LCS, pelaku usaha dapat melakukan transaksi langsung menggunakan rupiah (IDR) ke yuan Renminbi (CNY/RMB) tanpa harus melalui mata uang perantara, seperti dolar AS.

Secara teknis, mekanisme ini membantu mengurangi biaya konversi ganda atau double conversion. Selain itu, penggunaan jalur IDR–RMB juga membantu menekan risiko fluktuasi kurs dolar AS sekaligus meningkatkan efisiensi pembayaran internasional.

Namun, LCS bukan hanya soal efisiensi biaya. Sistem ini juga menekankan aspek transparansi dan kepatuhan regulasi.

Karena itu, untuk transaksi dengan nominal tertentu, pengirim wajib melampirkan underlying documents, seperti invoice, purchase order, maupun kontrak penjualan.

Dokumen tersebut diperlukan untuk memastikan sumber dan tujuan transaksi dapat diverifikasi dengan jelas serta memenuhi ketentuan anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan ilegal.

Strategi Efisiensi: Menghindari Kerugian Kurs Ganda (Double Conversion)

Masih banyak pelaku usaha menggunakan skema pembayaran IDR–USD–RMB untuk transaksi dengan supplier di China. Padahal, metode ini dapat memunculkan biaya konversi tambahan yang membuat pengeluaran impor menjadi lebih besar.

Merujuk Bank of China, penggunaan metode transfer langsung IDR–RMB dapat membantu menghemat biaya operasional hingga sekitar 1,5% sampai 2% per transaksi dibanding skema konversi ganda.

Agar lebih mudah dipahami, berikut perbandingan beberapa jalur pembayaran internasional yang umum digunakan importir.

Fitur

Jalur Ilegal (Jastip/Calo)

Bank Konvensional (SWIFT)

Dolarindo Remittance

Legalitas

Tidak berizin, berisiko tinggi

Resmi dan berizin BI

Resmi dan berizin BI

Kecepatan

Tidak menentu

2–5 hari kerja

Same-day service

Biaya Kurs

Terlihat murah, tetapi berisiko ada biaya tersembunyi

Kurs bank relatif tinggi

Kompetitif dan transparan

Keamanan Rekening

Sangat rentan dibekukan

Sangat aman

Sangat aman

Selain memilih jalur remitansi resmi, importir juga perlu memvalidasi kode China National Advanced Payment System (CNAPS) 12 digit sebelum melakukan transfer.

Menurut Airwallex, validasi kode CNAPS penting untuk menghindari penolakan transfer dan mempercepat proses pembayaran ke rekening supplier di China.

Baca Juga: Cash atau Kredit? Manfaat Valuta Asing saat Ke Luar Negeri

Prosedur Aman Transfer RMB dengan Dolarindo Money Changer & Remittance

Sumber: Pixabay/Moerschy

Saat melakukan transfer RMB ke supplier China, penting untuk memilih lembaga remitansi yang memiliki izin resmi dan jalur transaksi yang jelas.

Dolarindo Money Changer & Remittance hadir sebagai institusi berizin resmi dari Bank Indonesia yang membantu kebutuhan transaksi IDR ke RMB secara legal, aman, dan efisien.

Kecepatan transfer menjadi faktor penting bagi importir, terutama ketika pembayaran berkaitan langsung dengan jadwal produksi atau pengiriman barang. Karena itu, layanan same-day execution membantu proses pembayaran supplier menjadi lebih cepat sehingga aktivitas bisnis tidak tertunda.

Selain itu, keamanan transaksi juga perlu diperhatikan secara menyeluruh. Importir perlu memastikan kecocokan nama rekening perusahaan, validasi kode CNAPS bank tujuan, hingga pemeriksaan invoice dan dokumen perdagangan sebelum dana dikirimkan.

Langkah ini penting untuk mengurangi risiko Business Email Compromise (BEC) maupun kesalahan transfer akibat perubahan data rekening secara sepihak.

Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di industri valuta asing dan remitansi, Dolarindo mendukung kebutuhan transfer bisnis internasional dengan proses yang cepat, transparan, dan sesuai regulasi.

Untuk kebutuhan transfer RMB, percayakan saja dengan Dolarindo. Jika ingin konsultasi soal transaksi bisnis ke China, Anda dapat menghubungi tim Dolarindo untuk mendapatkan informasi kurs RMB terbaru dan layanan remitansi yang sesuai kebutuhan bisnis Anda.

FAQ

1. Mengapa saya tidak disarankan transfer RMB melalui akun pribadi supplier?

Transfer ke akun pribadi di China sering dianggap sebagai aktivitas berisiko oleh otoritas SAFE. Untuk transaksi bisnis, penggunaan rekening perusahaan (corporate account) lebih aman karena sumber dana dapat diverifikasi sebagai transaksi perdagangan yang sah.

2. Apa itu kode CNAPS dan mengapa penting untuk transfer ke China?

China National Advanced Payment System (CNAPS) adalah kode identifikasi unik 12 digit untuk bank di China. Kode ini membantu memastikan dana masuk ke sistem kliring domestik China dengan lebih cepat dan akurat.

3. Apakah transfer melalui Dolarindo memerlukan dokumen pendukung?

Ya. Sebagai lembaga yang mematuhi regulasi Bank Indonesia terkait antipencucian uang dan pencegahan pendanaan ilegal, Dolarindo memerlukan underlying documents, seperti invoice pembelian atau dokumen perdagangan.

4. Berapa lama dana diterima supplier di China?

Dolarindo menyediakan layanan remitansi bisnis dengan target eksekusi di hari yang sama (same-day service), tergantung waktu operasional bank koresponden dan kelengkapan dokumen transaksi.

Referensi: